oleh

Waspada Gempa Susulan, BMKG Himbau Warga Mamuju dan Majene Jauhi Area Pantai

JAKARTA – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, (BMKG) Dwikorita Karnawati menghimbau masyarakat di Mamuju dan sekitar wilayah Majene mewaspadai gempa susulan sekaligus menjauhi area pantai.

Sementara, jumlah korban meninggal akibat gempa ini terus bertambah.

Sampai sekitar pukul 11.10 WIB, Jumat (15/1/2021), menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), setidaknya delapan orang meninggal dunia dan sekitar 637 orang terluka di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.

Jumlah orang yang mengungsi di wilayah terdampak telah mencapai setidaknya 15.000 jiwa.

Mereka mengungsi ke sejumlah tempat, antara lain Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, serta Desa Deking.

Baca Juga  Pembangunan Bendungan Margatiga Ditargetkan Selesai 2021

Lainnya, mereka mengungsi di sejumlah lokasi di Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang, Desa Limbua di Kecamatan Ulumanda dan Kecamatan Malunda dan Kecamatan Sendana.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyatakan, gempa yang terjadi di sekitar wilayah Majene termasuk gempa dangkal dengan pusat kedalaman 10 kilometer dari permukaan.

BMKG sudah mencatat 28 kali gempa susulan dengan skala kekuatan berbeda-beda, pada hari Kamis-Jumat (14-15/1/2021)

“Masih ada potensi gempa susulan berikutnya yang masih kuat. Bisa mencapai kekuatan (magnitudo) seperti terjadi sebelumnya, 6,2 SR, atau sedikit lebih tinggi,” ucap Dwikorita pada konferensi pers Jumat (15/1/2021).

Baca Juga  Mathla’ul Anwar, Muktamar, dan Khittah

Itu terjadi karena kondisi batuan sudah digoncang dua kali, magnitude terkuat 5,9 dan 6,2, bahkan 28 kali, sudah rapuh.

“Pusat gempa ada di pantai memungkinkan terjadinya longsor bawah laut. Jadi, masih atau dapat pula berpotensi tsunami jika ada gempa susulan berikutnya dengan pusat gempa masih di pantai atau di pinggir laut,” katanya.

Dwikorita meminta warga tak hanya menghindari gedung-gedung, tapi juga area pantai, segera menyingkir dari area itu jika merasa gempa.

“Tidak perlu menunggu peringatan dini tsunami karena tsunami bisa sangat cepat,” ujar Dwikorita.

Pihak BMKG menganalisis gempa itu dikarenakan sesar naik Mamuju (Mamuju thrust) dan merupakan pengulangan dari dua gempa besar sebelumnya, yakni di tahun 1969 (magnitudo 6,9 SR) dan 1984 (magnitudo 6,7 SR).

Baca Juga  Isu Hoaks Gempa Sulbar, Kepala BNPB Minta Masyarakat Mamuju Tak Terpengaruh

Selain korban meninggal dunia akibat gempa itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mamuju melaporkan 24 orang mengalami luka-luka, lebih dari 2.000 warga mengungsi.

Kantor berita Antara melaporkan, bangunan Kantor Gubernur Sulbar berlantai empat nyaris rata dengan tanah.

Gedung Rumah Sakit Mitra Manakarra Mamuju juga roboh. Pasien yang selamat langsung dievakuasi ke lokasi yang dianggap aman.

Mall Mamuju dan bangunan pusat perbelanjaan lainnya juga terlihat rusak di sejumlah bagian.

 

Sumber: siberindo.co

News Feed